Posted by : hardiansyah mufti 20/01/13


Banyak orang bertanya-tanya, kenapa sih mesti Liverpool?
masih banyak tim yang lebih hebat,Seperti MU, Chelsea, Arsenal, bahkan Tottenham,Man city,dll. Juara EPL aja terakhir kali tahun 89, itu pun namanya belom EPL. Dari segi materi pemain pun udah kalah jauh. Prestasi angin-anginan, bahkan musim lalu terpuruk. Lantas kenapa masih mendukung Liverpool?

Pertanyaan ini mungkin susah dijawab karena mengandung banyak subyektifitas,yang sulit dijelaskan.
Saya mengenal Liverpool sejak SD yah kalau gak salah kelas 4 sekitar tahun 98/99,seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang/suka :)

Kok bisa? Kenal juga engga sama pemiliknya. Tidak ada satupun kerabat yang main di klub ini. Lalu kenapa bisa? Ya itu tadi. Ini mirip jatuh cinta. Susah dijelaskan. Di era 98-an ini LFC ada dalam masa antiklimaks dari kedigjayaannya. Kok mau-maunya mendukung klub yang ngga pernah juara liga? Saya hanya tersenyum bila ada yang menanyakan hal itu. Senyum yang mengandung arti; “kalian ngga bakal ngerti kenapa gue support club ini”.Ini pilihan yang tidak pernah disesali. Ngga pernah juara, tapi malah makin cinta. Bodoh? Ya itulah jatuh cinta. Tidak selalu rasional.

Singkat cerita, mungkin karena sering menonton Liverpool dan main game PS 1 pun saya selalu memakai tim Liverpool,itu lah kecintaan saya pada Liverpool mulai tumbuh,dan hingga sekarang kecintaan saya pada club Liverpool tak akan memudar.

Tapi seperti kata ungkapan, yang paling penting adalah lambang di dada, bukan nama di belakang jersey. Saya mengangguk setuju. Selama mendukung LFC, memang belum sekalipun merasakan eforia juara liga. Tapi ada banyak momen luar biasa yang tidak akan saya tukar dengan klub manapun.

Bila saya tidak mendukung LFC, saya akan kehilangan momen piala UEFA 2001. LFC menundukkan Alaves dengan skor 5-4 dengan golden goal. Skor yang luar biasa untuk final UEFA. LFC memang tidak punya Eric ‘tendangan kungfu’ Cantona, tapi LFC punya Robbie ‘The God’ Fowler. Hattrick Robbie ke gawang Arsenal dalam 4 menit 33 detik sangat sulit dilupakan. Masih ingat bagaimana LFC mencukur Real Madrid 4-0 di Champions League 2009? Klub ini seperti ditakdirkan untuk selalu mencetak momen-momen luar biasa. Piala FA 2006 dan piala Liga 2012 adalah 2 pertandingan LFC yang tidak disarankan ditonton untuk fans yang lemah jantung. Begitu intens dan drama yang tak kunjung selesai sampai peluit panjang ditiup. Memang klub sebelah mampu meraih kemenangan 0-1 menjadi 2-1 di injury time dan juara Champion League adalah suatu momen yang bagus. Tapi hey, LFC mengejar ketinggalan 0-3 menjadi 3-3 dan menang adu pinalti di Final Champion League. Dalam 100 tahun kedepan, klub manapun akan sulit mendapatkan momen seperti itu. Ini satu tips buat fans LFC; bila sedang kehilangan semangat dalam hal apapun, coba tonton footage pertandingan tersebut. Dijamin anda akan tertular inspirasi dan semangat yang dibakar oleh Stevie G dan seluruh fans The Reds di Istambul malam itu. Pertandingan itu begitu megah dan penuh dengan drama dengan hasil yang luar biasa sehingga dinobatkan sebagai The Greatest Final in competition history. Oh ya, Malam itu juga saat dimana  Andriy Shevchenko kehilangan 1/3 kepercayaan dirinya.

Kalau bicara subyektifitas memang tidak ada habisnya. Namun saya bangga sudah memilih LFC sebagai klub yang saya dukung. Akan datang lebih banyak momen istimewa yang akan tersimpan manis di kenangan.

Satu lagi yang saya syukuri tidak ada club footbal yang slogan sebaik Liverpool,"YOULL NEVER WALK ALONE"


{ 1 komentar... read them below or add one }

Silahkan isikan komentar Anda yang bersifat positif dan juga bukan spam, komentar yang bersifat positif akan saya tampilkan.

Followers

- Copyright © 2013 Blog Mufti -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -